RAIH MASA DEPAN

setiap manusia yang ada di bumi ini, harus memiliki tujuan hidupnya...tanpa adanya tujuan hidup, ibarat sebuah perahu layar yang tersesat di samudera luas dan dihempas ombak ganas. tandanya ia memasuki awal dari sebuah kehancuran...

tentunya kita tidak ingin mengalami hal seperti itu bukan?

oleh karenanya, buatlah sebuah target hidup, agar hidup kita lebih terarah dan jelas akan ke mana kita melangkah...


Rabu, 04 Juni 2014

Kisah Ashhabul Ukhdud


Peristiwa Ashhabul Ukhdud adalah sebuah tragedi berdarah, pembantaian yang dilakukan oleh seorang raja kejam kepada jiwa-jiwa kaum muslimin, ini merupakan kebiadaban dan tindakan tak berperikemanusiaan; namun aqidah tetaplah harus dipertahankan, karena dengannyalah kebahagiaan yang abadi akan diperoleh. Allah mengisahkan kejadian tragis ini dalam Alquran dengan firman-Nya:
Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruju: 4-7)
Para ahlul ilmi sedikit berselisih dalam menafsirkan siapakah Ashhabul Ukhdud. Sebagian di antara mereka (ahlul ilmi) mengatakan bahwa mereka (Ashhabul Ukhdud) adalah suatu kaum yang termasuk orang-orang ahli kitab dari sisa-sisa orang Majusi.
Ibnu Abbas dalam suatu riwayat mengatakan: “Mereka adalah sekelompok manusia dari bani Isra’il. Mereka menggali parit yang luas di suatu tempat kemudian menyalakan api, orang-orang berdiri dihadapkan kepada parit, baik laki-laki maupun wanita, kemudian mereka dilemparkan ke dalamnya. Mereka menganggap bahwa dia adalah Daniel dan para sahabatnya”.
Dan dalam riwayat: “Hal itu adalah sebuah lubang parit di negeri Najran, di mana mereka menyiksa manusia di dalamnya.”
Sedangkan dalam riwayat Adl-Dhohak, beliau mengatakan: “Para ahli tafsir menyangka bahhwa Ashhabul Ukhdud adalah orang-orang dari bani Israil, di mana mereka meringkus manusia baik laki-laki maupun wanita, lalu dibuatkanlah parit dan dinyalakan api dalam parit tersebut, lalu dihadapkanlah seluruh kaum mu’minin ke arah parit tersebut, seraya dikatakan: ‘Kalian (memilih) kufur atau dilemparkan ke dalam api?” (Tafsir Ath-Thabari, 30/162)
Kisah tragis ini pun kerap disampaikan oleh para pengajar kepada para muridnya. Bahkan pada kisah anak-anak pun sering disajikan. Kisah tersebut ialah sebagai berikut:
Dahulu ada seorang raja, dari orang-orang sebelum kalian. Dia memiliki seorang tukang sihir. Tatkala tukang sihir itu sudah tua, berkatalah ia kepada rajanya: “Sesungguhnya aku telah tua. Utuslah kepadaku seorang anak yang akan aku ajari sihir.” Maka sang raja pun mengutus seorang anak untuk diajari sihir. Setiap kali anak tersebut datang menemui tukang sihir, di tengah perjalanan ia selalu melewati seorang rahib, ia pun duduk mendengarkan pembicaraan rahib tersebut, sehingga ia kagum kepadanya. Maka setiap kali ia datang ke tukang sihir, ia selalu duduk dan mendengarkan petuah rahib itu, kemudian baru ia datang ke tukang sihir sehingga tukang sihir itu memukulnya (karena ia datang terlambat, red.). ia mengadukan hal itu kepada rahib tadi, sang rahib pun berpesan: “Kalau engkau takut kepada tukang sihir, katakanlah bahwa keluargamu telah menghalangimu (sehingga engkau terlambat), dan bila engkau takut kepada keluargamu, katakan juga bahwa tukang sihir itu telah mencegahmu. Maka tatkala berlangsung demikian, tiba-tiba ada seekor binatang buas mengonggok di tengah jalan sehingga menghalangi lalu-lalangnya manusia. Menghadapi peristiwa ini maka ia pun bergumam: “Pada hari ini akan aku buktikan apakah tukang sihir itu lebih utama dari pada rahib, ataukah sebaliknya.”
Ia pun mengambil sebuah batu kemudian mengatakan: “Ya Allah, apabila perkara rahib lebih engkau sukai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang buas itu.” Kemudian ia lemparkan batu tersebut, sehingga matilah binatang buas tadi dan manusia pun bisa lewat kembali. Sesudah itu datang lah ia kepada rahib dan mengabarkan kejadian yang baru saja ia alami, kemudian sang rahib mengatakan:
“Wahai anakku, hari ini engkau lebih baik daripada aku, dan engkau telah sampai pada perkara yang aku sangka. (ketahuilah) sesungguhnya engkau akan diuji, dan bila engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan tentang diriku.”
Dan kini ia dapat menyembuhkan penyakit buta, penyakit kusta, serta dapat mengobati manusia dari berbagai macam penyakit.
Hal ini terdengar oleh seorang teman duduk raja, sedangkan dia adalah seorang yang buta, kemudian ia membawa harta yang banyak seraya mengatakan: “Aku akan berikan harta ini kepadamu bila engkau bersedia menyembuhkan penyakitku.” Maka sang anak menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah bisa menyembuhkan siapapun, yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah maka aku akan berdoa kepada-Nya untuk kesembuhanmu.” Maka ia pun beriman kepada Allah dan Allah pun menyembuhkan penyakitnya. Kemudian datanglah dia menemui sang raja dan duduk sebagaimana biasanya, sang raja pun heran seraya mengatakan: “Siapakah yang telah mengembalikan pandanganmu?” maka ia menjawab: “Rabb-ku.” Sang raja melanjutkan: “Apakah engkau memiliki tuhan selain aku?!!” Jawabnya, “Ya, Dia adalah Rabb-ku dan Rabb-mu juga.” Maka sang raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada anak tersebut. Didatangkanlah si anak itu, kemudian sang raja berujar: “Wahai anakku, sekarang engkau telah memiliki kepandaian sihir, sehingga bisa menyembuhkan orang yang buta dan juga bisa menyembuhkan penyakit kusta dan lain sebagainya.” Sang anak balik menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, dan hanya Allah-lah yang bisa menyembuhkan.”
Akhirnya sang raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada rahib. Maka didatangkanlah si rahib, kemudian dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Ia pun enggan. Maka sang raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat di tengah kepalanya, dan dibelahlah tubuhnya sampai terbelah menjadi dua bagian. Kemudian didatangkan pula teman duduk sang raja tersebut, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Demikian pula, ia pun enggan, kemudian ditaruh gergaji itu di atas kepalanya, lantas dibelahlah tubuhnya hingga terbelah.
Selanjutnya didatangkanlah sang anak, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Ia pun menolak.
Kemudian ia dilemparkan kepada sekelompok prajurit raja, dan dikatakan: “Pergilah kalian ke gunung ini dan gunung ini, mendakilah sampai di puncak gunung, apabila ia mau berhenti dari agamanya selamatkan dia, dan kalau tidak, maka lemparkan ia ke dasar jurang.”
Maka mereka pun pergi, kemudian naik, dan tatkala berada di atas gunung sang anak berdoa: “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Tiba-tiba bergetarlah gunung tersebut dan semua prajurit raja jatuh berguguran ke bawah jurang, kemudian kembalilah sang anak menemui sang raja. Ia heran dan mengatakan: ‘Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab: “Sesungguhnya Alalh telah menjagaku dari makar mereka.” Maka kembali sang raja melemparkannya ke sekelompok prajuritnya yang lain, kalai ini perintah sang raja: “Pergilah kalian dan bawalah anak ini ke sebuah perahu, apabila kalain telah ke tengah laut, maka apabila ia mau berhenti dari agamanya selamatkanlah ia, kalau ia tetap enggan, lemparkanlah ia ke tengah lautan!”
Maka mereka pun pergi, setelah sampai di tengah laut, sang anak pun berdoa: “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Maka perahu itu pun terbalik, namun Allah tetap menyelematkannya dan tenggelamlah seluruh prajurit raja. Kembalilah sang anak datang menemui sang raja, ia pun terkejut seraya mengatakan: “Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab, “Allah telah menjagaku dari makar mereka.” Kemudian ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya engkau tidak akan pernah bisa membunuhku, kecuali bila engkau mau menuruti permintaanku.” Sang raja menjawab, “Apakah itu? Sang anak melanjutkan, “Kumpulkanlah seluruh manusia pada satu tempat, kemudian saliblah aku di sebuah pohon kurma, kemudian ambillah satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan anak panah itu di busurnya, kemudian katakanlah “Bismilah Rabbil ghulam (dengan nama Allah Rabb-nya anak ini).’ Kemudian lepaskanlah anak panah tersebut. Dengan begitu engkau bisa membunuhku.”
Maka sang raja pun mengumpulkan manusia pada suatu padang yang luas. Dia menyalib anak tersebut pada sebuah batang kurma, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat anak panahnya dan diletakkan di sebuah busur, kemudian mengatakan: “Bismillah Rabbin ghulam (Dengan menyebut nama Allah, Rabb anak ini).” Kemudian panah itu dilepaskan, maka anak panah itu melesat tepat mengenai pelipis sang anak, setelah itu Ia meletakkan tangannya di pelipisnya kemudian meninggal.
Maka manusia seluruhnya mengucapkan, “Aamanna bi Rabbil ghulam (Kami beriman kepada Allah Rabb-nya anak tersebut).” Maka dikatakan kepada sang raja: “(Wahai sang raja!) Tahukah engkau, perkara yang selama ini kau khawatirkan telah terjadi. Sungguh manusia seluruhnya telah beriman.” Maka sang raja memerintahkan untuk membuat sebuah parit di dekat pintu-intu jalan dan membuat lubang panjang. Lalu dinyalakanlah api kemudian ia berorasi: “Barangsiapa yang tidak mau kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam parit tersebut.” Atau sehingga dikatakan, “Lemparkanlah!!” maka mereka pun melemparkan seluruhnya. Sampai datang seorang wanita bersama bayinya, ia seorang wanita bersama bayinya, ia berputus asa, berdiri lemas tanpa daya menghadap jurang parit yang tengah berkobar api, tiba-tiba sang bayi berucap, “Wahai ibuku.. bersabarlah, sesungguhnya engkau dalam kebenaran…!”.
(Hadits shahih riwayat Imam Muslim dalam kitab Az-Zuhd bab “Qishashotu Ash-habil Ukhdud was Sahir war Rahib wal Ghulam: 3005).

Mutiara faidah dari kisah pemuda dan tukang sihir (Ashhabul Ukhdud)
Ahlul fasad (para pengusung kesesatan) selalu berusaha untuk menularkan dan mewariskan kesesatan mereka, dengan berupaya sekuat tenaga untuk melanggengkan kesesatannya tersebut.
Disenanginya belajar di kala kecil, karena belajar di kala kecil seperti mengukir di atas batu, dan seorang anak akan mampu menerima didikan dan pengajaran sesuai dengan yang diharapkan.
Hati-hati para hamba adalah berada di Tangan Allah, maka Allah akan memberi petunjuk atau menyesatkan siapapun yang dikehendaki-Nya. Lihatlah si anak tersebut, ia mendapatkan petunjuk sekalipun berada dalam didikan tukan sihir dan dalam asuhan seorang raja sesat.
Menetapkan adanya karomah para wali, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, seperti dalam firman-Nya: “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS. Yunus: 62-63).


Bolehnya bagi seseorang untuk mengorbankan dirinya apabila di sana ada kemaslahatan manusia secara umum. Berkata Syaikhul Islam, “Karena hal itu termasuk jihad di jalan Allah, dengan itu umat akan beriman dan ia pun tidak akan sia-sia, karena cepat atau lambat ia pun pasti akan meninggal dunia” Adapun yang dilakukan oleh sebagian manusia dengan praktek bom bunuh diri, yaitu dengan membawa alat peledak (bom) kemudian meledakkannya di sekelompok orang-orang kafir, maka ini termasuk kategori membunuh diri sendiri, dan barangsiapa yang membunuh diri sendiri maka ia kekal di dalam neraka selama-lamanya. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan sebatang besi, maka besi itu berada di tangannya, lantas ia akan menusuk perutnya dengannya di neraka jahannam, dia kekal selama-lamanya di dalamnya.” (HR. Bukhari 5778, Muslim: 109). Karena perilakus emacam itu tidak membawa maslhat bagi kaum muslimin secara keseluruhan. Dengan itu, ia mungkin hanya membunuh 10, 100, atau 200 kaum kuffar, yang hal tersebut tidak membawa manfaat bagi Islam dan tidak pula menjadikan manusia masuk ke dalam Islam. Berbeda dengan kisah ghulam (anak) tersebut. (Lihat Bahjatun Nadhirin karya Syaikh Salim bin Id Al-Hilali 1/86-88, Syarh Riyadlush Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin: 156-166).
Wallahul Muwaffiq.

Sumber: Majalah Al-Furqon

Rabu, 07 Agustus 2013

Analisa 1 Syawal 1434 H (Dalam Perspektif 3 Kriteria: WH, IR 2-3-8, DAN IR 4-6,4)

Sumber: Sang Pencerah
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabrakatuh
Ramadhan 1434 H kali ini memang terasa begitu berbeda denngan Ramadhan-Ramadhan yang lain, khususnya bagi penulis, walau sejatinya memang setiap Ramdhan memang selalu berbeda. Ramadhan 1434 H pun terbilang unik dan sedikit menjadi polemik, dimana untuk memulainya  terdapat perbedaan, yaitu bagi yang memulai 1 Ramadhan 1434 H pada hari Selasa tanggal 9 Juli 2013 M dan pada hari Rabu tanggall 10 Juli 2013 M.
Menurut penulis, bagi yang memulai 1 Ramadhan-nya 9 Juli 2013 M yaitu Muhammadiyah dan lainnya, sedangkan bagi yang memulai 1 Ramadhan-nya 10 Juli 2013 M harus sepakat untuk mengisi bulan Ramadhan kali ini agar lebih berkualitas bagi keimanan dan menuju kepada Ketaqwaan yang paripurna dan istiqomah. Jika dahulu Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, terlepas dari keistimewaanya, juga merupakan manusia seperti manusia-manusia saat ini, maka tentu manusia-manusia saat inipun mampu menggapai hikmah seoptimal mungkin yang berada pada bulan Ramadhan. Walaupun dinamika diskusi terkait perbedaan penentuan 1 Ramadhan 1434 H memang hangat di berbagai media. Namun sangat di sayangkan, ketika penulis mengikuti suatu acara talkshow menjelang sidang itsbat pada 07 Juli 2013 M, pejabat sekelas Wakil Menteri Agama memberikan paparan yang tidak berdasar atas Muhammadiyah terkait sidang itsbat dan parameter (kriteria) yang berkembang di Indonesia. (bisa dilihat di : Youtube)
Kembali kepada poin utama pembahasan, yaitu tentang Analisa 1 Syawal 1434 H yang tentunya juga di nantikan oleh umat Islam yang akan menjalani ibadah shaum selama satu bulan. Disini penulis akan bebricara dalam perspektif 3 kriteria yaitu : Kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal (WH), Kriteria Imkanur Rukyat (IR) 2-3-8, dan Kriteria Imkanur Rukyat (IR) 4-6,4. Sekali lagi perlu diingat, kriteria hisab hakiki Wujudul Hilal (WH) di gunakan oleh Muhammadiyah, sedangkan kriteria Imkanur Rukyat (IR) 2-3-8 dipegang oleh negara-negara yang tergabung dalam MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Sinngapura). Namun ada yang menarik, jika kriteria 2-3-8 yang dipegang MABIMS itu memiliki arti bahwa ketika saat ijtimak, jika salah satu dari 3 kriteria itu sudah terpenuhi maka sudah memenuhi kriteria IR 2-3-8 MABIMS, namun kriteria IR 2-3-8 yang dipegang oleh Pemerintah Indonesia (Kemenag RI) sedikit berbeda, yaitu kriteria IR 2-3-8 sudah memenuhi syarat jika ke-3 syarat diatas sudah sudah terpenuhi. Itu terjadi ketika ada perbedaan jatuhnya Idul Fitri pada 2011, dimana pemerintah Indonesia berbeda dengan negara-negara MABIMS lainnya. Dan untuk kriteria Imkanur Rukyat 4-6,4 yang sejatinya merupakan kriteria IR yang di usulkan oleh Prof. Thomas Djamaludin dari LAPAN yang kini kriteria tersebut di gunakan oleh PERSIS (Peratuan Islam).
Berikut penulis kembali ketengahkan kriteria-kriteria yang akan dibahas :
  1. Kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal (WH)
Kriteria hisab hakiki Wujudul Hilal (WH), dalam menentukan suatu kondisi telah masuk bulan baru memiliki 3 syarat, yaitu :
1)      Telah terjadi ijtimak,
2)      Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam,
3)      Saat Matahari terbenam, piringan atas Bulan masih berada di atas ufuk
2.   Imkanur Rukyat (2-3-8) MABIMS
Untuk memasuki bulan baru ketika terjadi ijtimak, kriteria Imkanur Rukyat (IR) 2-3-8 ini memiliki syarat :
1)      ketinggian minimal 2 derajat,
2)      jarak bulan-matahari minimal 3 derajat, dan
3)      umur bulan minimal 8 jam
3.   Kriteria Imkanur Rukyat 4-6,4
Untuk memasuki bulan baru, pada saat hari ijtimak, berdasarkan kriteria ini, akan memasuki bulan baru jika :
1)      Jarak Bulan-Matahari >6,40
2)      Beda tinggi Bulan-Matahari > 40.
Untuk kriteria Imkanur Rukyat (IR) 4-6,4 yang digunakan Persatuan Islam (PERSIS) berikut penjelasannya :
Berdasarkan Keputusan Bersama Dewan Hisab Dan Rukyat Dan Dewan Hisbah Nomor: 005/Pp-C.1/A.3/2012 Nomor: 019/Pp-C.1/A.2/2012 Tentang Kriteria Imkanur Rukyah Persis yang memutuskan bahwa:
Pertama         :
Kriteria Imkanur Rukyah harus didasarkan pada prinsip visibilitas hilal yang ilmiah, teruji dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua                      :
Kriteria Imkanur Rukyah yang dimaksud poin (1) pada saat ini adalah jika posisi bulan pada waktu ghurub (terbenam matahari) di salah satu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia :
  1. Beda tinggi antara bulan dan matahari minimal 4 derajat, dan
  2. Jarak busur antara bulan dan matahari minimal sebesar 6.4 derajat
Berikut data astronomi pada Rabu 7 Agustus 2013 M menggunakan aplikasi Accurate Times :
Geocentric Calculation :
By the Name of Allah
Islamic Crescents' Observation Project
Accurate Times 5.3, By Mohammad Odeh
* Settings:-
- Calculations for Shawwal 1434 AH Waxing Crescent (New, Evening).
- Crescent Visibility on: Wednesday  07/08/2013 CE
- Calculations are Done at Best Time at:  18:03 LT
- Calculations are Geocentric.
- INDONESIA Jakarta, Long: 106:50:43,0, Lat: -06:12:41,0, Ele:10,0, Zone:7,00
- Summer time is: Off
- Height above mean sea-level affects rise and set events.
- Refraction Settings: Temperature: 10 °C   Pressure: 1010 mb
- Delta T: 68,34 Second(s)
=======================================================================
G. Conjunction Time: 07/08/2013        CE, 04:51 LT
- Julian Date at Time of Calculations : 2456511,96028
- Sunset :  17:55 LT                             G. Moon Age                         :   +13H 12M
- Moonset : 18:13 LT                              Moon Lag Time                     : +00H 18M
- G. Moon Right Ascension : +09H 28M 22S         G. Moon Declination   : +09°:43':08"
- G. Sun Right Ascension   :  +09H 10M 17S         G. Sun Declination :  +16°:18':06"
- G. Moon Longitude           : +141°:18':50"             G. Moon Latitude   : -04°:55':51"
- G. Sun Longitude              :  +135°:06':29"           G. Sun Latitude   :  -00°:00':01"
- G. Moon Altitude   : +02°:17':43"     G. Moon Azimuth : +280°:02':18"
- G. Sun Altitude      :  -02°:48':04"     G. Sun Azimuth :  +286°:06':11"
- G. Relative Altitude : +05°:05':47"       G. Elongation   :  +07°:55':12"
- G. Relative Azimuth :  -06°:03':52"       G. Phase Angle : +172°:03':33"
- G. Crescent Width   : +00°:00':09"   G. Moon Semi-Diameter  :  +00°:14':57"
- G. Illumination          :  00,48 %        G. Horizontal Parallax   : +00°:54':52"
- G. Magnitude   : -04,75 G. Distance : 399641,00 Km
- According to Odeh Criteria, using the following values at Best Time:
  * Moon-Sun Topocentric Relative Altitude =+04°:11':04" (04,2°)
  * Topocentric Crescent width = +00°:00':07" (0,12')
  * q = -2,21
  * The Crescent Visibility is: Not Visible Even With Optical Aid.
=======================================================================
* Remarks:-
- Date format: dd/mm/yyyy.
- The Prefix 'G.' means Geocentric, and 'T.' means Topocentric.
- For New Crescent: Moon Lag Time = Moonset - Sunset.
- For Old Crescent: Moon Lag Time = Sunrise - Moonrise.
- For New Crescent: Best Time = Sunset + 4/9 (Moon Lag Time).
- For Old Crescent: Best Time = Sunrise - 4/9 (Moon Lag Time).
Topocentric Calculation ;
By the Name of Allah
Islamic Crescents' Observation Project
Accurate Times 5.3, By Mohammad Odeh
* Settings:-
- Calculations for Shawwal 1434 AH Waxing Crescent (New, Evening).
- Crescent Visibility on: Wednesday  07/08/2013 CE
- Calculations are Done at Best Time at:  18:03 LT
- Calculations are Topocentric.
- INDONESIA Jakarta, Long: 106:50:43,0, Lat: -06:12:41,0, Ele:10,0, Zone:7,00
- Summer time is: Off
- Height above mean sea-level affects rise and set events.
- Refraction Settings: Temperature: 10 °C   Pressure: 1010 mb
- Delta T: 68,34 Second(s)
=======================================================================
- T. Conjunction Time                          : 07/08/2013 CE, 03:22 LT
- Julian Date at Time of Calculations : 2456511,96028
- Sunset :  17:55 LT   T. Moon Age :   +14H 41M
- Moonset : 18:13 LT Moon Lag Time : +00H 18M
- T. Moon Right Ascension : +09H 24M 41S T. Moon Declination       : +09°:49':25"
- T. Sun Right Ascension :  +09H 10M 16S   T. Sun Declination   :  +16°:18':07"
- T. Moon Longitude : +140°:24':54"   T. Moon Latitude : -05°:06':56"
- T. Sun Longitude   :  +135°:06':21"   T. Sun Latitude :  -00°:00':03"
- T. Moon Altitude : +01°:22':52"     T. Moon Azimuth : +280°:02':16"
- T. Sun Altitude   :  -02°:48':13"     T. Sun Azimuth   :  +286°:06':11"
- T. Relative Altitude : +04°:11':04"     T. Elongation   :  +07°:22':02"
- T. Relative Azimuth :  -06°:03':55"   T. Phase Angle   : +172°:36':48"
- T. Crescent Width   : +00°:00':07"   T. Moon Semi-Diameter :  +00°:14':58"
- T. Illumination       :   00,41 %           G. Horizontal Parallax       : +00°:54':52"
- T. Magnitude   : -04,69         G. Distance   : 399641,00 Km
- According to Odeh Criteria, using the following values at Best Time:
  * Moon-Sun Topocentric Relative Altitude =+04°:11':04" (04,2°)
  * Topocentric Crescent width = +00°:00':07" (0,12')
  * q = -2,21
  * The Crescent Visibility is: Not Visible Even With Optical Aid.
 =======================================================================
 * Remarks:-
- Date format: dd/mm/yyyy.
- The Prefix 'G.' means Geocentric, and 'T.' means Topocentric.
- For New Crescent: Moon Lag Time = Moonset - Sunset.
- For Old Crescent: Moon Lag Time = Sunrise - Moonrise.
- For New Crescent: Best Time = Sunset + 4/9 (Moon Lag Time).
- For Old Crescent: Best Time = Sunrise - 4/9 (Moon Lag Time).
Simulasi Bulan 7 Agustus 2013 saat ghurub dengan Aplikasi Stellarium
Simulasi Bulan pada 7 Agustus 2013 dengan aplikasi Starry Night Backyard saat ghurub
Data pada tanggal 07 Julli 2013 M berdasar aplikasi Mawaaqit 2001, yaitu :
  • Waktu Ijtimak : 04:51
  • Matahari Terbenam : 55:07
  • Azimut : 286* 18’ 21,6”
  • Bulan Terbenam : 18:12:27
  • Azimut : 279* 45’ 51,8”
  • Saat Matahari Terbenam :
-          Umur Bulan : 13,07 Jam
-          Fase Pencahayaan : 0,47 %
-          Tinggi Dari Horizon : 3* 30’ 11,7”
-          Azimut : 280* 17’ 5,7”
-          Bright Limb : 326* 57’ 32,7”
-          Elongasi : 7* 51’ 28,0”
Maka, untuk data astronomis pada tanggal 7 Juli 2013 (saat ijtimak), dapat disimpulkan bahwa :
1)      Menurut Kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal :
Ijtimak telah terjadi pada 7 Agustus 2013 M Pkl. 04:51 WIB, dan waktu matahari terbenam pada Pkl. 17:55:07 WIB, dan Bulan terbenam pada Pkl. 18:12:27 WIB, tinggi hilal dari horzon 3* 30’ 11,7” (sudah positif). Maka ketiga kriteria Wujudul Hilal sudah terpenuhi, sehingga 1 Syawwal 1434 H jatuh sejak Pkl. 17:55:07 tanggal 7 Agustus 2013 M, dan telah masuk Idul Fitri pada 8 Agustus 2013 M.
2)      Menurut Kriteria Imkanur Rkyat 2-3-8 (MABIMS) :
Ijtimak telah terjadi pada 7 Agustus 2013 M Pkl. 04:51 WIB, dan waktu matahari terbenam pada Pkl. 17:55:07 WIB, dan Bulan terbenam pada Pkl. 18:12:27 WIB, tinggi hilal dari horzon 3* 30’ 11,7” (< 2*)  dimana umur bulan 13,07 Jam dan sudut elongasi 7* 51’ 28,0”. Maka 1 Syawwal 1434 H akan masuk sejak matahari terbenam Pkl. 17:55:07 tanggal 7 Agustus 2013 M, dan telah masuk Idul Fitri pada 8 Agustus 2013 M.
3)      Menurut Kriteria Imkanur Rukyat 4-6,4 (PERSIS) :
Mengingat Persatuan Islam (PERSIS) menggunakan aplikasi Accurate Time dalam menghitung, maka ; Ijtimak telah terjadi pada 7 Agustus 2013 M Pkl. 04:51 WIB, dan waktu matahari terbenam pada Pkl. 17:55:07 WIB, dan Bulan terbenam pada Pkl. 18:12:27 WIB, Beda tinggi antara bulan dan matahari (T. Relative Altitude) 04* 11' 04"  (Idul Fitri pada 8 Agustus 2013 M.)
 
Garis Tanggal Pada 7 Agustus 2013 M dengan aplikasi Mawaaqit 2001
 
Garis Tanggal Pada 7 Agustus 2013 M dengan aplikasi Accurate Time.
Alhamdulillah, untuk Idul Fitri 1434 H Insyaallah pada ketiga kriteria tersebut jatuh pada hari yang sama, yaitu Kamis tanggal 8 Agustus 2013 M. Namun tentu, kita tidak harus terburu-buru untuk lebih sibuk menghadapi Idul Fitri, ibadah shaum Ramadhan yang kita jalankan harus lebih optimal lagi guna meningkatnya iman dan derajat taqwa benar-benar kita raih.
Adi Damanhuri
Wa Allahu a’lam bishshowwab
Fastabiqul Khoirot
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh

Senin, 04 Februari 2013

“ DEMI TEKAD ”


Bismillahirrahmaanirraahiim

pokoknya ibu mau kamu ada di sini, di rumah, kumpul sama keluarga, lanjutin kuliah juga di sini biar bisa bantu ayah cari nafkah”.

Sepenggal kalimat itu yang selalu terkenang dalam pikiran saya. Ibu selalu berharap agar saya melanjutkan kuliah di Bekasi, tempat tinggal kedua orang tua saya. Sebenarnya saya bisa merasakan betapa sedihnya ibu karena saya. Percakapan dengan ibu lewat telepon itu terjadi setelah saya memutuskan untuk mengabdi di Baiturrahman, tempat saya mendapatkan ilmu, cerita, berita dan derita, suka bahagia serta mengajarkan saya tentang hidup.

apa masih kurang waktu 6 tahun pisah sama ibu dan keluarga? Ibu cuma minta kamu bisa kumpul sama keluarga di sini, itu aja”.

Berat batin ini sungguh, untuk memilih antara mengikuti titah ibu yang telah ikhlas membesarkan saya dengan kasih sayangnya, atau tetap keukeuh sama kata hati ini yang begitu kuat untuk bisa mengabdi di Baiturrahman.

Setelah lulus SMA, saya memang  sempat bertekad untuk bisa menjadi saksi sejarah perkembangan Pesantren ini karena saya menilai bahwa tidak ada tempat sebaik dan seindah Baiturrahman. Lingkungan alamnya yang sejuk, udaranya yang masih bersih ditambah dengan hubungan persaudaraan yang harmonis sesama pengurus pondok serta santrinya, menjadi alasan kuat saya untuk selalu menjadi bagian dari perjalanan sejarah pesantren ini. Saya mengenal pesantren ini sejak duduk di kelas 1 SMP dan menjadi santri di sini.

Setelah debat panjang, akhirnya ibu mengizinkan saya untuk mengikuti kata hati saya. Alhamdulillah beliau bisa mengerti harapan anaknya. Dengan isakan dan air mata, ibu berpesan untuk selalu Istiqomah dengan pilihan saya, karena setiap pilihan itu mengandung resiko yang harus dihadapi, jangan mundur meski hanya selangkah dan saya menyatakan siap, insya Allah.

Hidup memang sulit ditebak, liar seperti angin kencang yang tertiup ke segala arah. Itulah pengalaman yang saya rasakan saat pertama bertugas di sini. Awal mulanya, saya diminta untuk menjadi pelatih bela diri yang memang kebetulan saya pernah mengikuti pelatihan selama kurang lebih dua tahun di “Elang Suci”, wadah pelatihan bela diri yang diasuh oleh yayasan. Saya tekuni tugas ini dengan sepenuh hati selama beberapa bulan, namun seiring berjalannya waktu, saya dipanggil menghadap kepala sekolah di ruang kantornya. Saya diminta kesediaannya untuk menjadi guru pengganti di pelajaran penjas, karena guru sebelumnya tidak bisa memenuhi tugasnya. Meski awalnya ragu, saya terima saja amanah itu, dan mulai menjalani hidup sebagai seorang guru.

Guru ?...
Tak pernah terlintas dalam benak saya bercita-cita menjadi guru. Sejak SD dulu, setiap guru saya bertanya tentang cita-cita, selalu saya jawab, ”apapun cita-citanya saya mau, asalkan jangan jadi guru”,  karena memang bukan keinginan saya untuk jadi guru. Tapi Allah berkehendak lain.

Setelah saya terbiasa berbicara di depan kelas sebagai guru, berhadapan dengan murid-murid, buku-buku, nilai-nilai serta tugas-tugas, ada satu hal lagi yang hati saya menolak menerima jika ditawari satu amanah besar, yaitu menjadi Wali Santri. Lho kenapa?...


Tak pernah mata dan telinga saya luput untuk memperhatikannya. Dalam setiap pertemuan pengurus Pesantren, saya selalu mendengar ada saja masalah-masalah yang muncul dari santri, dan masalah yang muncul itu bukan perkara mudah bahkan bisa dibilang sangat sulit untuk dicari jalan keluarnya. Tapi semua masalah rumit itu harus diselesaikan dan dicari solusinya oleh wali santri. Makanya, satu-satunya amanah yang pertama akan saya tolak jika diminta menanggungnya yaitu menjadi, wali santri.

Bukan karena sebab lain, tapi karena memang saya masih belum sanggup untuk memikulnya. Menghadapi santri yang berbeda karakter, beda masalah, beda latar belakangnya serta keluarganya, saya belum sanggup. Juga masih belum mampu untuk bisa berperan sebagai orang tua pengganti santri selama mereka belajar di sini. Bagaimana mungkin, seorang Fahry yang minim pengalaman, harus menjadi orang tua dan mengasuh anak orang lain yang jumlahnya bukan seorang tapi belasan bahkan puluhan.

Entah apa sebabnya dan kapan “musibah” itu datang menghampiri, saya lupa, bener-bener saya lupa, di mana pada akhirnya saya menerima amanah yang berat itu begitu saja, menjadi wali santri. Dan saya juga lupa, apakah saat itu saya dalam keadaan sadar atau tidak, bingung.

***

Benar saja, awal bertugas menjadi wali santri, saya langsung berhadapan dengan masalah santri yang berat. Ada santri yang menangis terus di asrama karena kangen orang tuanya, seharian dia gak mau keluar asrama untuk gabung sama teman-temannya bermain, saya berusaha membujuknya agar berhenti menangis, tapi saya bingung, bukannya berhenti malah semakin keras menangisnya, ya sudah saya tinggalin aja, biar dia berhenti sendiri.

Pernah juga ada santri yang duduk di atap Mesjid, murung karena gak betah di Pesantren. Sambil sesenggukan dia minta ke saya supaya kakeknya datang untuk menjemputnya pulang. Saya rayu dia dengan santun biar mau turun dari atap. Bukannya turun malah dia membentak sambil mengusir saya dari tempat itu, padahal saya sudah mengatur kata-kata yang bagus dan selembut mungkin, tapi hasilnya tetap nihil. nah loh?... jadi tambah bingung. Dalam hati “Baru kali ini ada seorang  pelatih bela diri (dulu, itu juga karena dipaksa hehe) diusir sama anak kecil, pake kata-kata kasar lagi. Kalau saja dia....” ah sudahlah, namanya juga tugas.

Tugas wali santri itu setiap hari harus membangunkan santri yang masih tidur di asrama. Makanya ada juga kewajiban saya membangunkan santri di asrama menjelang waktu shubuh. Setelah bersiap diri dengan berpakaian rapih, saya bergegas menuju asrama, membuka pintu asrama lalu membangunkan santri satu persatu di tempat tidurnya masing-masing. Ternyata memang gak mudah, banyak santri yang susah untuk dibangunkan, ada yang mengeluh kedinginan lalu menarik lagi selimutnya menutupi badan, ada yang pura-pura sakit, sampai ada yang – entah sengaja atau tidak – (maaf) kentut ! tepat di muka saya, yang memang kebetulan dia tidur di ranjang atas. Masya Allah, (seingat saya, perasaan dulu sewaktu jadi santri gak gitu-gitu amat...!).
­
Pernah juga saya salah membangunkan santri. Karena memang susah, saya mencoba cara lain yaitu berteriak sekerasnya sambil menarik selimut dan menyemprotkan air dingin tepat di mukanya. Awalnya berjalan lancar, tapi setelah beberapa santri sudah berhasil bangun, saya melihat masih ada orang yang tidur di balik selimut, kontan saya menuju tempat tidur di pojok itu dan segera saya tarik selimutnya sambil menyemprotkan air tepat di mukanya. Bukan main kagetnya, ternyata  saya salah semprot, bukannya santri malah orang tua santri yang sedang menginap di asrama (lagian siapa suruh tidur di asrama...?). Langsung saja saya minta maaf dan ngaciiir, ( Memalukan !@#$ ).

Membangunkan santri memang butuh kesabaran ekstra, soalnya pernah juga saya alami ketika membangunkan salah seorang santri, tiba-tiba saja dia berdiri dan mengajak saya berantem karena merasa saya mengganggu tidurnya. (Weitss, belum tau dia kalau saya mantan jawara balap karung). Langsung saja dia minta maaf setelah sadar ada saya di hadapannya. Katanya, dia semalaman mimpi berkelahi sama pak RT di rumahnya (haah..??).

***

Tentang usil
woi, siapa yang make handuk saya..? bukannya bilang-bilang dulu.. dasar maling” sering saya mendengar kalimat seperti itu tapi beda-beda kasusnya. Hampir ada setiap hari santri yang mengaku kehilangan barang atau peralatan pribadinya, atau juga seragam yang sudah dia siapkan untuk berangkat ke sekolah, baru ditinggal sebentar, tiba-tiba menghilang entah ke mana (apa bisa baju kabur, karena menolak dipake?) semua masalah itu harus diselesaikan saat itu juga oleh walisantri.

Tentang kabur
Ada kalanya juga saya menangani kasus anak yang kabur dari pondok. Malam-malam ada santri yang menyelinap dari balik tembok, di balik semak-semak dan mendekati pagar untuk melompatinya, (hebring euy... aya santri nu bisa jadi ninja, padahal teu aya nu ngajarkeun) (ini siapa sih pelatih bela dirinya?) (Eits, saya mah sudah mantan, wee...). diantara yang berhasil kabur, ada juga santri yang gagal kabur dan tertangkap, tergantung dari seberapa sering pengalaman mereka kabur.

Tentang berantem
Karena memang sudah wataknya kaum Adam, hampir ada saja setiap hari yang berkelahi, meski masalahnya cuma sepele. Tapi uniknya, setiap mereka selesai baku hantam hingga babak belur, beberapa lama setelah didamaikan, kebanyakan mereka akan terlihat barengan lagi, ketawa bareng, main bareng, ngobrol bareng (soalnya kalo ngobrol sendiri kan gak enak). Beda dengan kaum Hawa, dari beberapa kejadian yang pernah saya tangani, biasanya “mahluk halus” ini kalo berantem dengan temannya, bisa sampai berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk bisa akur lagi, bisa ngobrol lagi, ketawa lagi, nyuci lagi, makan lagi, berantem lagi. Memang unik ya!!

***

Terkadang saya pikir, hebat juga dengan profesi yang satu ini, karena wali santri hampir di setiap tempat dan waktu selalu diikuti oleh tanggung jawab terhadap santri. Ketika ada santri yang sering bolos sekolah karena mengeluh sakit dan mengurung diri di asrama seharian, wali santri harus bisa memotivasinya untuk mau berangkat sekolah. Setelah ditanya ternyata dia sedang ada masalah dengan pelajaran di sekolah. Wali santri memang harus bisa pandai membaca situasi yang sedang dihadapi santrinya, jika salah menangani, maka akibatnya bukan selesai, malah akan menambah berat masalahnya.

Pernah saya merasa bingung sekali ketika menangani anak santri yang berterus terang ke saya untuk keluar dari pesantren karena merasa tidak tahan dengan peraturan yang berlaku di Pesantren ini. Dia bilang mau hidup bebas, seperti teman-temannya di sekolah sebelumnya. Dia melihat teman-temannya bisa begitu bebas dan bisa menikmati indahnya masa-masa remaja. Berulang kali saya memberinya nasehat, bahwa apa yang dilihatnya itu adalah fatamorgana, semua indah pada awalnya tapi ketika di akhir akan datang penyesalan karena ternyata keindahan itu semu, tidak ada. Dia tidak menerima nasehat saya itu, dan memaksa kepada orang tuanya untuk menjemputnya dan mencari sekolah lain, dan orang tuanya setuju (terkadang ada juga orang tua yang dengan mudah memberikan apa yang diminta anaknya). Akhirnya anak itu benar-benar keluar dari pesantren ini.

Beberapa bulan setelah dia keluar dari sini, saya mendapat kabar, dia ditangkap polisi dan mendekam dalam penjara karena terlibat dalam sebuah kecelakaan di jalan raya, itu terjadi setelah dia melakukan balap liar bersama teman-temannya. Orang tuanya cerita, anaknya menyesal sekali karena keluar dari pesantren, juga karena tidak mendengarkan nasehat saya. Dia minta maaf ke saya dan benar-benar menyesal, seandainya dia mendengar nasehat saya pasti tidak akan menjadi seperti ini. Melalui surat, dia minta ke teman-temannya di pesantren untuk tidak mengikuti jejaknya, keluar dari pesantren.

***

Permasalahan wali santri yang muncul tdak semuanya berasal dari santri, bahkan tak jarang orang tua santri yang malah mendatangkan masalah. Ketika ada santri yang terbaring lemah karena sakit di asrama, tugas wali santri harus segera memberikan perhatiannya dengan membawakan makan dan obat dari Poskestren atau membawanya ke dokter terdekat. Kalau memang sakitnya bertambah parah dan tak kunjung sembuh, maka wali santri menghubungi orang tua untuk minta keterangan orang tua, apakah santrinya akan dirujuk ke rumah sakit atau akan dibawa pulang. Terkadang ada juga orang tua yang menyalahkan wali santri, karena anaknya tidak diperhatikan dan diurus hingga mengalami sakit parah, padahal semua usaha sudah dilakukan demi kesembuhan santri tersebut. Bukan sekali dua kali saya mengalami hal seperti itu. Meski kurang nyaman dengan kondisi itu, wali santri dituntut harus tetap santun dan lapang dada menghadapinya. Inilah ujian kesabaran yang sesungguhnya, bukan teori lagi.

Masalah-masalah yang muncul itu tentu harus dihadapi dengan lapang dada dan ikhlas, kalau saja yang keluar hanya keluhan, caci maki bukannya menghilangkan masalah justru akan semakin banyak masalah yang muncul. Istilahnya, “sudah mah capek malah ga ikhlas, rugi kan?”.

Saya yakin apa yang sedang saya jalani ini, Allah sedang mendidik saya menjadi seorang pemimpin umat yang tangguh di masa depan dan harapan saya mudah-mudahan saja ini adalah jalan terpendek saya menuju surga-Nya. Sampai kapanpun saya akan tetap berada di sini, dengan amanah yang besar sekalipun, demi sebuah tekad saya siap menanggungnya.
Insya Allah, wallahu a’lamu bish shawwab.




Bumi Baiturrahman, Januari 2013





Rabu, 30 Januari 2013

surga narkoba, katanya

masya Allah...

liat berita di mana-mana lagi rame-ramenya ngabarin tentang penangkapan artis2 papan atas di rumahnya Raffi Ahmad oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). bahkan ada beberapa media asing yang gak mau ketinggalan nimbrung untukdapet berita terpanas itu.

memang sebuah berita yang "panas", panas buat negeri ini. betapa tidak, coba bayangkan, negara Indonesia punya penduduk Muslim terbesar di dunia, negara2 Arab aja kalah sama kita, tapi kenapa ya berita-berita yang mendunia tuh malah jauh dari nilai-nilai Islami. ada berita korupsi, Indonesia jadi negara terkorup papan atas, ada berita selebriti yang mesum, bahkan dengan bangga memperlihatkan perilaku zina di depan kita, bangsa yang mayoritas Muslim dan taat sama Al-Qur'an dan hadits. Sekarang yang lagi panas-panasnya, narkoba bebas berkeliaran bak hantu bergentayangan di siang bolong. Mereka merampas hak hidup pemuda-pemudi bangsa besar ini, mereka (narkoba dkk) menghancurkan perlahan-lahan generasi masa yang akan datang, yang akan memimpin negara besar ini. waduh, capek deh..!!!

Indonesia dari dulu dikenal sebagai surganya dunia, karena semua tersedia di sini, mau apa aja ada, mau bikin apa aja bisa, karena negara ini adalah negara yang Allah karuniakan rezeki yang berlimpah, seperti alamnya yang sangat kaya dibadingkan negara-negara lain. Hari ini, Indonesia bertambah titelnya menjadi "surganya narkoba", semua orang dapat dengan mudah mengakses obat perangsang maut itu kapan saja dan di mana saja, bahkan siswa-siswa sekolah aja bisa dapat.

Bagaimana malunya jadi manusia yang hidup di negara seperti indonesia ini, udah gak kebayang deh... setuju saya sama Taufik Ismail yang bilang "Malu Jadi Orang Indonesia" betul juga tuh kayanya ya???

Apa mau terus kayak gini bangsa kita ini?? apa gak akan berubah? atau kita sebagai generasi mudanya yang harusnya siap menggantikan peran bapak-bapak kita sebagai pemimpin sudah selayaknya berperan aktif membongkar semua kebobrokan bangsa besar yang sednag sakit ini, yuk kita sama-sama bawa bangsa ini ke dokter spesialis penyembuh lukanya... yuk ahh, BONGKARRRR..!!! kata bang Iwan Fals.

Semoga aja banyak yang tertarik

Rabu, 16 Januari 2013

BERMIMPI DAN BEKERJA



laskar pemimpi, BUSUR creative community


Ada orang yang seharian bekerja, ada yang seharian bermimpi dan ada yang mengawali hari
dengan bemimpi kemudian mengisi sisa harinya dengan bekerja untuk mewujudkan mimpinya.
Salah satu dari tiga jenis orang ini pasti ada yang cocok dengan Anda, tetapi yang mana ?

Perusahaan tempat Anda bekerja pasti menginginkan Anda menjadi orang jenis pertama, yaitu orang yang
mengisi harinya dengan bekerja dan bekerja. Orang yang tidak berfikir neko-neko, waktu dan pikirannya
terkooptasi penuh oleh dunia kerjanya sehingga tidak sempat berfikir yang lain.
Kalau toh mempunyai cita-cita, cita-citanya sebatas jenjang karir yang sudah diplot di instansi atau perusahaan tempatnya bekerja.

Karena perusahaan atau instansi suka dengan orang yang seperti ini, mereka menyebut Anda sebagai karyawan atau pegawai yang berdedikasi tinggi.Tidak ada yang salah dengan ini, bila ini memang pilihan Anda dengan sadar bahwa inilah yang hendak Anda lakukan sampai akhir karier Anda. Yang perlu Anda pikirkan tinggal bagaimana atau apa yang Anda akan lakukan ketika karier Anda berakhir ? Ketika pengabdian Anda dipandang cukup sudah oleh perusahaan atau instansi tempat Anda bekerja ?, ketika dedikasi Anda sudah tidak diperlukan lagi !.

Golongan kedua adalah orang yang bermimpi sepanjang hari. Dia tidak harus pengangguran, bisa saja dia
punya pekerjaan full time yang menyibukkan fisik dia sepanjang hari - tetapi hati dia di tempat yang lain. Dia
bekerja hanya untuk memperoleh gaji, status atau motif yang lain. Dia memiliki mimpi-mimpi yang tidak nyambung dengan pekerjaannya, tetapi juga tidak punya keberanian untuk meninggalkan pekerjaan dan mewujudkan mimpi-mimpinya.

Orang jenis kedua ini biasanya nanggung, atasan tempat Anda bekerja mudah melihat Anda sebagai karyawan yang kurang berdedikasi. Sebabnya adalah Anda tidak terlalu excited dengan pekerjaan dan jenjang karier Anda, Anda punya mimpi yang lain.

Bila Anda masuk kategori orang yang kedua ini, Anda harus fair kepada tempat Anda bekerja dan juga pada diri Anda. Anda tidak bisa berlama-lama dengan kondisi mendua demikian, suatu saat Anda harus putuskan.

Anda bisa putuskan mimpi Anda, dan fokus pada pekerjaan Anda. Atau Anda putuskan pekerjaan Anda untuk mengejar mimpi-mimpi Anda. Bila yang pertama yang Anda pilih, maka Anda akan menjadi orang jenis pertama lengkap dengan konsekwensinya. Bila yang kedua yang Anda pilih, maka Anda akan menjadi orang jenis ketiga, juga lengkap dengan resikonya.

Orang jenis ketiga ini adalah orang yang memulai harinya dengan mimpi, kemudian bekerja keras sepanjang sisa harinya untuk merealisasikan mimpinya.

Namanya juga mimpi, awalnya memang serba tidak jelas. Mimpi itu seperti snapshot – snapshot foto dari beberapa kejadian yang belum nyambung satu sama lain. Maka pekerjaan pertama Anda dengan mimpi Anda adalah merangkai snapshot-snapshot tersebut menjadi rangkaian foto yang menggambarkan sesuatu yang lebih jelas.

Bila gambaran tersebut sudah begitu jelas bagi Anda, itulah sudah terjadi metamorphosis dari mimpi Anda
menjadi visi Anda. Tantangan berikutnya tinggal Anda bekerja keras lagi untuk menjabarkan visi menjadi strategi dan aksi.

Pada tahap implementasi ke strategi dan aksi inilah risiko demi resiko bermunculan. Betapa banyak ide cemerlang yang tidak menghasilkan apa-apa karena dia tidak dituangkan dalam strategy yang tepat dan aksi
yang paripurna.

Resiko menjadi lebih besar lagi manakala apa yang Anda visikan adalah hasil proses ide kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang unique, yang belum pernah dilakukan atau diciptakan oleh orang sebelumnya.

Andalah orang pertama itu, Andalah yang babat alas untuk membuat peta wilayah baru – Anda harus siap diterkam harimau, dipatok ular dan digigit serangga ganas.

Resiko memang besar, tetapi bila Anda berhasil maka rasa puas dan syukur Anda insyaAllah juga lebih besar. Andalah pionir yang banyak-banyak dibutuhkan negeri ini untuk mengolah segala sumber daya yang melimpah, Andalah pahlawan yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mencegah kemiskinan di negeri yang mestinya kaya ini.

Maka beranilah bermimpi, tetapi tidak berhenti hanya bermimpi. Beranilah memulai dengan bermimpi tetapi kemudian isilah hari-hari Anda dengan kerja keras untuk mewujudkan mimpi itu. InsyaAllah.

Oleh : Muhaimin Iqbal

Minggu, 09 Desember 2012

ANTARA VISI, MIMPI DAN DO'A


Dalam sejarah dunia abad lalu, ada pemimpin dunia yang sangat terkenal akan kekuatan visinya yaitu John F. Kennedy. Di hadapan Konggres Amerika pada tahun 1961 dia mengungkapkan  visinya bahwa bangsa Amerika harus bisa mencapai bulan sebelum akhir dekade itu.

Di tengah bangsa Amerika yang lagi limbung sebenarnya visi ini jauh melampaui jamannya. Visi ini muncul ketika bangsa Amerika ragu apakah jalan hidup yang mereka pilih sudah benar, apakah bukannya komunis yang benar karena saat itu komunis  lagi menghebohkan dengan keberhasilan Soviet meluncurkan satelit yang mengorbit bumi. Bahkan bangsa Amerika lagi nggumun-nggumun-nya dengan keberhasilan soviet mengirim kosmonot Yuri Gagarin ke antariksa.

Namun sekitar delapan tahun kemudian, meskipun JFK sendiri sudah meninggal – visinya teralisasikan dengan sejarah Neil Amstrong dan Buzz Aldrin sebagai manusia-manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.

Jadi visi lebih penting ketimbang sumber daya dan kondisi yang melingkungi manusia itu sendiri. Dengan sumber daya melimpah tetapi tidak didukung oleh visi yang jelas – maka sumber daya yang melimpah ini tidak akan banyak manfaatnya.

Sebaliknya dengan sumber daya yang terbatas dan dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya kondusif sekalipun, pemimpin yang mempunyai visi yang kuat akan bisa mengeluarkan rakyatnya dari penderitaan dan bahkan bisa menjadi bangsa pemenang – meskipun tidak harus tercapai pada saat dia memimpin.

Lantas bagaimana kita tahu apakah kita sudah memiliki visi yang jelas atau kita baru sekedar bermimpi ?. Bedanya terletak pada jabaran-nya. Visi yang jelas dapat dijabarkan menjadiMission, Goals, Strategies dan Action Plans sampai sedetilnya. Sedangkan mimpi tidak perlu penjabaran, Anda bisa saja mimpi lagi menikmati liburan di Paris tetapi berangkatnya naik sepeda dari Depok – namanya juga mimpi, boleh-boleh saja dan tidak perlu penjelasan detil.

Perbedaan antara visi dan mimpi ini pulalah yang antara lain membedakan sedikit karyawan yang benar-benar pindah kwadrant menjadi pengusaha, dengan mayoritas karyawan yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun – padahal sejak awal bekerja yang mayoritas ini juga bervisi (sebenarnya masih mimpi) menjadi pengusaha. Golongan yang pertama menjabarkan visinya dan berbuat (action plans) maka sampailah apa yang di-visi-kannya; golongan kedua tidak bermuat apa-apa dengan mimpinya – maka mimpi tetap menjadi mimpi.

Dalam hal visi ini, sebagai umat Islam kita sesungguhnya punya contoh tauladan yang jauh lebih agung dari John F. Kennedy. Tauladan kita adalah bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S.  Bayangkan ditengah padang pasir yang gersang tidak ada pepohonan, di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia – nabi Ibrahim sudah memiliki visi yang sangat jelas akan seperti apa tempat itu nantinya. Visi ini dituangkan dalam do’a-do’a-nya yang diabadikan di Al-Qur’an antara lain sebagai berikut :

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian… ". (QS 2 :126)

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS 14:137).

Kini ribuan tahun kemudian, visi itu benar-benar terwujud. Kita bisa menikmati buah-buahan apa saja di Mekkah, meskipun buah-buahan itu sendiri tidak ditanam disana. Buah-buahan, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan manusia mengalir bak air bah dari seluruh dunia ke tempat yang di visikan nabi Ibrahim tersebut diatas. Lebih dari itu manusia yang berduyun-duyun ke Mekkah juga mayoritasnya memiliki  satu tujuan saja yaitu menyembah Allah semata yang dimanifestasikan dalam bentuk sholat.

Nah, kalau Kennedy saja yang tidak membaca petunjuk Al-Qur’an bisa membawa bangsanya mencapai bulan. Kita yang dituntun dengan petunjuk dan contoh yang sempurna dari Al-Qur’an dan Hadits – sudah seharusnya dapat berbuat lebih dari yang dilakukan oleh JFK.
Bukan hanya petunjuk dan contoh yang sangat komprehensif yang kita punya, tetapi juga kita dibekali dengan do’a-do’a yang matsur seperti yang dilafalkan Nabi Ibrahim tersebut diatas.
Ayo sekarang kita semua, mulai dari diri kita – bangun dari mimpi-mimpi kita dan mulai membangun visi sambil tidak berhenti untuk terus berdo'a. Semoga Allah menunjuki jalanNya untuk kita semua…Amin.

by: Muhaimin Iqbal

Yuk Ahh..!!!

deuh...bener-bener deh, kalo kayak gini caranya sih ga bakalan maju-maju bangsa Indonesia kali ya?? ada orang yang masih aja Gaptek alias "Gagap Teknologi", hari gini masih ga ngerti soal remeh temeh "Mublikasiin" karya tulisnya lewat blognya sendiri (yang udah dibikin berbulan-bulan ke belakang) ampuuun deh...

makanya, jangan ngabisin waktu ama hal-hal yang sepele, tiap hari kerjaannya cuman Browsing ke sana kemari ga ada abis-abisnya, saban hari cuma "melototin" karya orang lain dengan perasaan takjub..."kok bisa ya mereka-mereka pada hebat bikin karya" nah loh "saya sendiri kapan dong bisa melejit ngelangkahin mereka jauh????" halaaah....

makanya mulai detik ini, yuk ah kita bareng2 ngajak hati dan pikiran serta seluruh anggota kabinet tubuh kita mulai dari ujung rambut ampe bulu kaki kita buat bikin karya2 yang sederhana tapi bermanfaat (yaa minimal buat kita sendiri dulu aja laaah)...

selamat berkarya..!!!